“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata : ”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” {Fushshilat: 33}

Jumat

BACAAN RUKU’ DALAM SHOLAT



Assalamu’alaikum Wr Wb.
Bapak Ustadz mohon dijelaskan tentang masalah ruku’ dalam sholat khususnya bacaan –bacaannya. Terimakasih Misbah – Kaltim

Jawaban :
Berikut penjelasan yang terkait dengan masalah ruku’ di dalam shalat :

A. Tata cara ruku’

1.    Bertakbir ketika akan ruku’

Bertakbir ketika akan ruku’ sudah menjadi kesepakatan ulama, tidak ada perbedaan pendapat dalam masalah ini.  Hal ini berdasarkan hadits riwayat Ibnu Mas’ud a, ia berkata : “Aku melihat Rasulullah n bertakbir setiap kali bangkit, sujud, berdiri dan duduk.” (HR. Ahmad, Nasa’I dan at Tirmidzi)
Yakni takbir dengan diiringi mengangkat kedua tangan hingga sejajar dengan kedua pundak atau kedua telinga, dengan menjadikan kepala sejajar dengan punggung tangan.

2.    Memegang kedua lutut dengan kedua tangan dan merenggangkan jari-jemari.
 Hal ini berdasarkan hadits :  ”Jika engkau ruku letakkanlah kedua tangAnmu di atas lututumu. Kemudian renggangkanlah jari-jarimu sampai tulang belakangmu menjadi mapan ditempatnya.” (HR Ibnu Khuzaimah & Ibnu Hibban).
Juga diriwayatkan dari Mush’ab bin Sa’ad a, ia berkata : “ Aku pernah sholat disamping ayahku (kemudian ruku’) dengan meletakkan tangan dipaha dengan jari-jemari merapat.  Lantas ayahku melarang dari hal itu, ia berkata, “Kami diperintahkan untuk meletakan tangan dilutut (dikala ruku’) (HR. Ahmad)

3.    Meluruskan punggung di saat ruku’
Diantara sifat ruku’ Nabi n di dalam sholat adalah beliau menegakkan punggungnya, dan menyeimbangkan kepala, yakni tidak menunduk dan juga tidak mendongak. Sebagaimana keterangan dari ummul mukminin Aisyah yang mengatakan : “Beliau ketika ruku’ tidak mengangangkat atau menundukkan kepala, tetapi seimbang diantara keduanya.” (HR. Muslim)
Tentang sifat punggung Rasulullah n yang lurus dalam ruku’nya, disifati oleh sayidina Ali, “ Adalah Rasulullah n ketika ruku’ seandainya diletakkan gelas yang berisi air, niscaya tidak akan tumpah.” (HR. Ahmad)
Hal ini dikarenakan lurusnya punggung dan tenangnya beliau dalam ruku.
4.    Tuma’ninah dalam ruku’
Rasulullah n bersabda : “Sejelek-jeleknya pencuri ialah orang yang mencuri dari shalatnya”.Mereka bertanya: “Ya Rasulullah. Bagaimana caranya mencuri dari shalat itu ?”Beliau menjawab : “Tidak disempurnakanNya ruku’ dan sujudnya”,atau dalam riwayat lain dikatakan, “Tidak diluruskannya punggung sewaktu ruku’ dan sujud.” (HR. Ahmad dan lainnya)
B.   Bacaan dalam ruku’
Ada beberapa macam bacaan ruku’ yang dibaca Rasulullah n dalam sholatnya. Ini artinya beliau terkadang membaca dengan sebuah bacaan namun terkadang menggantinya dengan yang lain. Berikut diantara bacaan ruku’ tersebut :
سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ
“Maha suci rabbku yang maha agung.”[1]
Atau biasa juga dengan lafadz berikut :

سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ
Maha Suci Rabbku yang maha Agung dan maha terpuji.”[2]
Menurut mayoritas ulama kalimat dzikir diatas batas minimalnya adalah dibaca sekali dan sempurnanya dibaca tiga kali. Pendapat ini didasarkan kepada hadits riwayat Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah n bersabda : “Apabila kalian ruku’ maka bacalah dalam ruku’ kalian ‘Subhana rabbiyal ‘adziem’ tiga kali.” (HR. Tirmidzi)
 Sebagian ulama menyukai membaca tasbih sebanyak sepuluh kali, hal ini didasarkan pada perkataan dari shahabat Anas bin Malik ketika melihat Umar bin Abdul Aziz sholat, ia berkata : “Aku tidak pernah sholat di belakang seorangpun (sepeninggal Rasulullah) yang sholatnya paling mirip dengan Rasulullah n dari pada pemuda ini (Umar bin Abdul Aziz). Sa’id bin Jubair berkata : “Maka kami kira-kirakan waktu ruku’ dan sujudnya sekitar sepuluh kali bacaan tasbih.”(HR Abu Dawud)
Namun Malikiyah mengatakan banyaknya bacaan tersebut tidak meiliki batasan.[3]
Bacaan ruku’ lainnya adalah dzikir berikut ini :
سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي
Maha suci Engkau wahai rabb kami, segala pujian bagi-Mu. Ya Allah, ampunilah aku).” (Mutafaqqun ‘alaih)

سُبُّوحٌ قُدُّوسٌ رَبُّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ

“Mahasuci, Maha Qudus, Rabbnya para malaikat dan ruh.” (HR. Muslim)

فَسَبِّحْ بِاسْمِ رَبِّكَ الْعَظِيمِ
“Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Rabbmu yang Maha Besar.”[4]
Selanjutnya, juga bisa membaca dzikir berikut ini,

اَللَّهُمَّ لَكَ رَكَعْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَلَكَ أَسْلَمْتُ، خَشَعَ لَكَ سَمْعِيْ وَبَصَرِيْ وَمُخِّيْ وَعَظْمِيْ وَعَصَبِيْ وَمَا اسْتَقَلَّ بِهِ قَدَمِيْ

“Ya Allah, untukMu aku ruku’. KepadaMu aku beriman, kepadaMu aku berserah diri. Pendengaranku, penglihatanku, otakku, tulangku, sarafku dan apa yang berdiri di atas dua tapak kakiku, telah merunduk dengan khusyuk kepada-Mu.”[5]


سُبْحَانَ ذِي الْجَبَرُوْتِ وَاْلمَلَكُوْتِ وَالْكِبْرِيَاءِ وَالْعَظَمَةِ
“Maha Suci (Allah) Yang memiliki Keperkasaan, Kerajaan, Kebesaran dan Keagungan.”[6]
C.   Dzikir Yang Dilarang Ketika Ruku'
Bentuk bacaan dzikir yang dilarang ketika dalam kondisi ruku’ adalah membaca ayat-ayat dari Al Quran. Berdasarkan hadits : "Bahwasanya Nabi n melarang membaca Al Quran dalam ruku' dan sujud." (HR. Muslim)
Demikian. Wallahua’lam.


[1] Dari Huzaifah bin Al-Yaman a  “bahwa dia pernah shalat bersama nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. maka ketika ruku’ beliau membaca: “subhana rabbiyal azhim (maha suci rabbku yang maha agung),” dan ketika sujud beliau membaca: “subhana rabbiyal a’la (maha suci rabbku yang maha tinggi).” (Hadits Shahih riwayat abu Daud, at-Tirmidzi, an-Nasai, dan ibnu Majah)

[2] Bacaan dengan tambahan ‘wa bihamdihi’ diriwayatkan dalam hadits dengan jalur periwayatan yang banyak, sehingga  Imam Asy-Syaukani berkata bahwa riwayat-riwayat yang banyak itu saling menguatkan.” (Fiqih Sunnah I:137)
[3] Fiqh al Islami wa adillatuhu (2/57).
[4] Uqbah bin Amir berkata, manakala turun ayat, فسبح باسم ربك العظيم (Al-Waqi’ah: 74) Nabi  n bersabda, “Jadikan ia sebagai bacaan dalam ruku’ kalian.” Ketika turun ayat, سبح اسم ربك الأعلى (Al-A’la: 1) Nabi n bersabda, Jadikan ia sebagai bacaan dalam sujud kalian.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad dengan sanad hasan).
[5] HR. Muslim 1/534, begitu juga empat imam hadis, kecuali Ibnu Majah.

[6] HR. Abu Dawud 1/230, An-Nasai dan Ahmad. Dan sanadnya hasan.
TERIMA KASIH ATAS KUNJUNGANNYA,SEMOGA BLOG INI BERMANFAAT